Loading...
Monday, October 6, 2014

Kuku-Kuku di Jari Bapak

Pernahkah sekali saja kita melakukan satu hal kecil saat Orang tua sedang tidak memintanya? Mungkin saja hanya sebagian kecil dari kita yang pernah  melakukan hal demikian. Karena orang tua tidak pernah mau meminta hal yang akan memberatkan anaknya.

Anak memberikan materi kepada kedua orang tuanya bagiku sudah tidak biasa. Bukankan suatu kewajiban seorang anak membantu orang tuanya?

Selain Ibu tempat kita berbakti, kita masih punya seorang Bapak. Namun kehadiran seorang Bapak kadang membuat kita lengah memperhatikannya. Beliau yang banting  tulang mencari nafkah untuk keluarganya justru kadang menjadi nomor dua.

Sebut saja Aku sendiri. sangat jarang sekali bahkan bisa dibilang hanya sesekali perhatian kepada Bapak. Terkadang perhatian berlebih akan tercurahkan saat beliau sedang kurang sehat atau sakit saja. Padahal sebenarnya saat beliau sedang sehat, saat itulah butuh perhatian berlebih.

Alasan Aku menegaskan demikian dikarenakan seorang Bapak sangat tidak ingin terlihat lemah dihadapan keluarganya, dengan segala keluatanya beliau akan menyembunyikan rasa sakit yang dideritanya karena tidak ingin seluruh anggota keluarganya khawatir. Itulah seorang Bapak

Jika biasanya Aku hanya memegang jemari Bapak saat salaman, pamitan atau sungkem. Malam ini, untuk pertama kalinya Aku memegang jari-jari Bapak dan memerhatikannya dengan seksama. Awalnya Aku melihat kuku di jemari Bapak yang memanjang dan menghitam saat kami saling bercanda di ruang nonton. Hal itu membuatku menawarkan jasa untuk memotong kuku - kuku beliau.

Saat Aku mulai memegang dan memotong kuku jari dan kaki beliau satu persatu. Perasaan haru, sedih,iba dan kawan-kawannya menyelimutiku, seketika tenggorokanku serasa tercekat menyaksikan pemandangan yang selama ini Aku tidak perhatikan.

Disana sini kuku Bapak nampak menghitam dan mengeras karena kerja keras demi kami semua. Aku bahkan beberapa kali harus melepas pemotong kuku karena menyakiti jemariku karena sangat kesulitan memotong kuku kaki beliau. Disana sini kukunya bahkan mencuat dan menua layaknya akar pohon tua yang mulai melapuk. Aku ingin menangis, tapi Aku menahannya hingga tiba saatnya Aku menuangkannya sejadi2nya di kamar sempit nan gelapku.

Aku tahu, tidak mudah Beban seorang Bapak terlebih dengan anggota keluarga setengah lusin dengan diri beliau. Sebagai seorang petani yang selalu bekerja keras, Bapak bahkan tidak pernah sekalipun mengeluh. Sejak kecil juga telah menjadi tumpuan keluarga di rumah nenek karena ditakdirkan lahir sebagai anak laki-laki pertama yang kemudian harus ditinggal Bapaknya.untuk selamanya saat masik kanak-kanak dengan beberapa orang Saudara.

Aku mencintai Bapak karena Alloh. Bagiku Bapak adalah malaikat yg Alloh kirim untuk kami. Cintailah sosok seorang Bapak karena beliau adalah pahlawan tanpa tanda jasa dan pahlawan tanpa kenal lelah.

Sinjai, 6 Oktober 2014

#Lathifah Ratih

0 comments:

Post a Comment

 
TOP