Loading...
Sunday, May 11, 2014

Antara Balikpapan dan Dong Hwa

Mempersiapkan perjalanan yang sempat gagal dari Sabtu malam dengan Start dari Kota Balikpapan di pagi hari dan kemudian tiba di Jam 12 di Pelabuhan Dong Hwa di siang hari, cukup menguras banyak waktu menurutku.  

Bukan karena perjalanan yang begitu jauh, akan tetapi begitu banyaknya rentetan kejadian yang mengakibatkan terhambatnya perjalanan kami. Mulai dari rencana dadakan, kekurangtahuan transportasi menuju lokasi, terbatasnya alat transportasi dan cukup sulitnya akses menuju lokasi kampung Dong Hwa, namun kami begitu menikmatinya.
Memasuki Kelurahan Gersik
Sepanjang perjalanan menuju Dong Hwa dari Pelabuhan Kampung Baru Tengah, mata akan di manjakan dengan pemandangan laut yang airnya beriak seakan ingin menelan kapal - kapal yang sementara berlabuh dan alat - alat berat yang sementara beroperasi di sepanjang bibir laut. Namun yang lebih menarik adalah spot setelah mendekati pelabuhan Dong Hwa, disana membentang hutan Bakau yang menghijau pada tepi - tepi laut yang semakin menyempit.

Dong Hwa yang sebenarnya bernama asli kelurahan Jenebora yang terletak di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur ini oleh penduduk setempat dinamakan Dong Hwa karena di daerah ini berdiri sebuah perusahaan Korea Indonesia dengan bidang usaha sebagai penyedia bahan kayu lapis Jenebora dengan nama PT Inne Donghwa Development Co Ltd, karenanya jangan heran jika mendekati pelabuhan akan mendapati kapal - kapal pengangkut kayu disana. Perusahaan inilah yang kemudian menjadi sumber perputaran  ekonomi penduduk  setempat.

Meski telah dilahan si Jago Merah, Masih saja ada kehidupan disana
Sisa Kebakaran tahun 2011, Silam

Meskipun pada malam ke 24 Romadhan, tepatnya 23 Agustus 2011 di kelurahan Jenebora yang mereka sebut sebagai Dong Hwa sempat mengalami kebakaran hebat yang menghanguskan 150 rumah yang terdiri dari 2 RT, juga kejadian Desember 2012 lalu dimana Perusahaan setempat sempat tutup dan melakukan PHK Massal kurang lebih 1.300an Karyawannya. Namun rentetan kejadian itu tidak lantas membuat penduduk setempat hengkang dari wilayah Jenebora.

Untuk sampai ke kelurahan Jenebora, bisa dengan melalui Darat dan juga laut. Transportasi utama via laut terdiri atas Speedboat yang bisa memakan waktu 30 menit dari Pelabuhan Kampung Baru Tengah, Balikpapan. Selain itu, juga ada Perahu klotok yang hanya tersedia sampai pukul 10 pagi dan tentunya waktu tempuh juga relatif lambat jika dibandingkan dengan Speedboat. Untuk harga speedboat pada siang hari dipatok harga 25rb/orang dan 50rb/org pada malam hari dan untuk klotok sendiri, tentunya akan lebih murah. Namun terbatasnya jam operasi klotok itu sendiri, mengakibatkan melonjaknya harga Speedboat diikuti dengan harga BBM yang memang relatif mahal.

Satu hal yang harus dipahami, Speedboat tidak akan berangkat jika penumpang belum memenuhi batas minimum untuk berangkat, yakni enam orang. Jika ingin berangkat lebih cepat atau terburu - buru, terpaksa harus menyarter dengan harga yang setara dengan bayaran penumpang untuk enam orang.
Speedboat, Photo by.: David Utomo
Alasan perbandingan harga yang dua kali lipat pada malam hari dikarenakan sukarnya menemukan transportasi menuju ke Dong Hwa. Untuk transportasi Darat, bisa melalui Jl.Soekarno Hatta KM. 48 (jika tidak salah), akan tetapi akan sangat jauh jika dibandingkan dengan via laut.

Dikawasan yang cukup terisolir ini hanya terdiri dari tiga kelurahan, yakni : Jenebora/Dong Hwa, Gersik & Pantailago. Khusus untuk Dong Hwa, ada beberapa suku yang bermukin disana, diantaranya : Bugis, Toraja dan Jawa serta mungkin penduduk Asli kalimantan sendiri. Entahlah, setidaknya yang banyak aku temui adalah orang yang lalu lalang dengan bahasa Bugis dan Toraja.

Satu hal yang membuat aku kagum pada penduduk khususnya Dong Hwa, mereka sangat rukun dan memiliki tenggang rasa yang tinggi. Bahkan sebuah pemandangan langkah yang aku belum pernah saksikan langsung adalah, saling bersandingnya rumah-rumah ibadah dan mereka tetap rukun. Jarak antara rumah ibadah satu dengan lainnya bahkan ada yang hanya beberapa meter.

Aku mungkin tidak akan menginjakkan kaki disana, jika saja bukan karena Ingin bersilaturrahmi dengan keluarga salah seorang teman yang sudah saya anggap Seperti saudara sendiri dan tentunya untuk menemui Azzam di Ulang tahunnya yang Pertama. Dari sana, aku bahkan diajak untuk bertemu dan mengenal sebuah keluarga Bugis yang sudah bermukim cukup lama di kelurahan Gersik yang akses menuju keluarga tersebut bermukin hanya bisa di jangkau dengan kendaraan roda dua. 

Pada halaman rumahnya, kami menemukan puluhan pohon kelapa kerdil yang orang bugis menyebutnya "Kalulu Frida" atau kelapa yang memiliki ukuran kecil namun rasa yang luar biasa nikmat. Kami harus melewati jalanan berpasir dan berbatu untuk bisa menikmati manisnya kelapa Frida penduduk yang Mayoritas Bugis di Gersik, Penajam Paser Utara.
Berfoto bersama Azzam dengan Background Kelapa "Frida"

Aku begitu menikmati perjalanan dan setiap momen disana. Aku tak berhenti berdecak kagum dan memuji kebesaran dan kuasa Allah, atas apa yang Allah anugerahkan di seluruh jagad ini, termasuk keberadaan Kelurahan Jenebora/Dong Hwa dan kedua kelurahan lain disekitarnya.


Balikpapan, 12 May 2014

#Lathifah Ratih

5 comments:

  1. Tadi aku kirain dong hwa itu nama daerah di luar negeri ternyata di kalimantan. Saya jadi dapat ilmu baru :)

    Ngomong2, kunjungan perdana, salam kenal yah, kalau berkenan, mampir yah di blogku :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Untuk menjangkaunya juga butuh perjuangan.

      Dan sudah berkunjung ke blognya. Sudah d folow dan dikomentari. Hihi
      Tp aku suka desain blognya. Kapan2 privat boleh kan yah... ^_^

      Delete
    2. iyaah.. bener mas @chairuddin Atmadja ^_^

      Delete
  2. Iya Mas @Chairuddin : itu Azzam Putra Mami Yova :)

    ReplyDelete

 
TOP