Loading...
Thursday, May 1, 2014

Pahlawan Lelakiku

Aku lupa, kapan terakhir kali engkau membelaiku
Aku lupa, kapan tetakhir kali  aku bermanja.
Yang aku ingat, hanya saat terakhir kali engkau bersuara parau, menatapku dan sesekali diam

Katamu, aku bukan anak seorang yang berkantong tebal yang duduk di singgahsana mewah diatas sana,
Yang seenaknya meminta rupiah, berapapun yang aku minta.
Aku berbeda dari mereka, katamu

Kamu bukan peluru, yang dilesatkan dari senapan laras panjang mewah yang sasarannya telah diatur, yang selalu dipajang pada lemari kaca  yang diusap tiap hari agar tetap mengkilat, katamu dengan intonasi tinggi.

Kamu, hanya belati kecil yang masih tumpul, dari dapur lusuh seorang lelaki tua tak terurus yang tak kenal bangku sekolah, katamu.

Aku selalu ingat, saat cangkul dan sabitmu yang berdenting membangunkanku, menandakan hari telah pagi.

Sekarang, belatimu yang dulu tumpul telah menajam.
Namun cangkul dan sabitmu yang  mulai menumpul seiring kulitmu yang mulai mengeriput
Garis-garis pengorbananmu terlihat jelas, disana..

Ayah

Balikpapan, 26 April 2014

#Lathifah Ratih

0 comments:

Post a Comment

 
TOP